Berikut ini adalah kisah nyata Hiromi Shinya, M.D. seorang Guru Besar Kedokteran Albert Einstein College of Medicine, USA:
Saya pertama kali mengetahui betapa buruknya efek susu bagi tubuh lebih dari 35 tahun yang lalu, ketika anak-anak saya sendiri menderita dermatitis atopic (radang kulit parah)pada usia enam atau tujuh bulan.
Sang Ibu sudah menuruti segala instruksi yang diberikan oleh dokter anak, tetapi betapapun banyaknya perawatan yang mereka terima, radang kulit anak-anak sama sekali tidak membaik. Lalu, pada usia sekitar tiga atau empat tahun, putra saya mulai mengalami diare parah. Dan pada akhirnya, dia bahkan mulai mengeluarkan dara bersama kotorannya. Setelah memeriksanya dengan endoskop, saya menemukan bahwa si balita menunjukkan tanda-tanda awal colitis ulserativa (radang parah dengan tukak di dalam usus besar).
Oleh karena tahu bahwa colitis ulserativa berhubungan erat dengan makanan seseorang, saya pun memfokuskan pada jenis makanan yang biasa dimakan oleh anak-anak. Ternyata, tepat pada saat anak-anak mulai menderita dermatitis atopic, istri saya telah berhenti menyusui dan mulai memberi mereka susu di bawah arahan dokter anak. Kami pun menyingkirkan semua susu dan produk susu dari makanan anak-anak sejak saat itu. Tentu saja, kotoran berdarah dan diare, bahkan dermatitis atopic, semua menghilang.
Setelah mengalami hal ini, saat menanyakan kepada pasien-pasien saya tentang sejarah kebiasaan makan mereka, saya mulai mengumpulkan daftar lengkap berapa banyak susu dan produk susu yang mereka konsumsi. Menurut data klinis saya, terdapat kemungkinan besar terbentuknya kecenderungan timbulnya alergi dari mengonsumsi susu dan produk-produk susu. Hal ini sesuai dengan penelitian mengenai alergi baru-baru ini yang melaporkan bahwa jika wanita hamil minum susu sapi, anak-anak mereka cenderung lebih mudah terjangkit dermatitis atopic.
Selama 30 tahun terakhir di Jepang, jumlah pasien penderita dermatitis atopic dan alergi serbuk meningkat secara drastic. Jumlahnya pada saat ini mungkin hampir sebanyak satu dari setiap lima orang. Begitu banyak teori yang berusaha menjelaskan mengapa terjadi peningkatan yang begitu cepat dalam jumlah orang yang menderita alergi, tetapi saya percaya bahwa penyebab paling utama adalah diperkenalkannya susu dalam menu makan siang di sekolah pada awal era 1960-an.
Susu (sapi) yang mengandung banyak zat lemak teroksidasi, mengacaukan lingkungan dalam usus, meningkatkan jumlah bakteri jahat dan menghancurkan keseimbangan flora bakteri dalam usus kita. Sebagai akibatnya, racunp-racun seperti radikal bebas, hydrogen sulfide, dan ammonia diproduksi dalam usus. Penelitian mengenai proses apa saja yang dialami racun-racun ini dan penyakit-penyakit jenis apa saja yang dapat timbul, masih berlangsung. Namun beberapa hasil penelitian melaporkan bahwa susu tidak hanya menyebabkan berbagai laergi, tetapi juga dihubungkan dengan diabetes pada anak-anak (lihat www.sciencenews.org/sn_arc99/6_26_99/fob2.htm ). Hasil penelitian ini tersedia di internet, maka saya menyarankan agar Anda dapat membacanya sendiri.